Terapi Kanker

Teknologi NGS Dorong Terapi Kanker Lebih Personal di Indonesia

Reporter : Rico
Penguatan diagnostik presisi menjadi kebutuhan mendesak di tengah kompleksitas kanker yang semakin tinggi.

The Indonesia Times - Penguatan diagnosis menjadi fokus utama dalam upaya meningkatkan keberhasilan terapi kanker di Indonesia. AstraZeneca Indonesia bersama Rumah Sakit Kanker Dharmais memperluas pemanfaatan teknologi Next-Generation Sequencing (NGS) guna menghadirkan layanan diagnostik presisi yang lebih akurat dan cepat.

Kolaborasi ini menandai pergeseran pendekatan penanganan kanker, dari yang sebelumnya berfokus pada pengobatan, menjadi berbasis data molekuler pasien sejak tahap awal diagnosis. Dengan teknologi NGS, dokter dapat memahami profil genetik kanker secara lebih komprehensif untuk menentukan terapi yang paling sesuai.

Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, mengatakan bahwa inovasi dalam terapi kanker perlu didukung sistem diagnostik yang kuat agar hasilnya optimal.

“Melalui pemanfaatan teknologi NGS, kami ingin membantu tenaga medis mengambil keputusan klinis yang lebih tepat, personal, dan berbasis bukti. Ini penting untuk meningkatkan kualitas penanganan kanker di Indonesia,” ujar Esra, Jumat (5/6/2026).

Fokus kolaborasi ini mencakup kanker payudara, kanker paru, serta Leukemia Limfositik Kronis (CLL), yang menjadi tiga jenis kanker dengan beban kasus tinggi. Teknologi NGS memungkinkan analisis puluhan gen dalam satu kali pemeriksaan, sehingga mempercepat identifikasi mutasi yang berpengaruh terhadap perkembangan penyakit.

Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr. Eniarti, menilai penguatan diagnostik presisi menjadi kebutuhan mendesak di tengah kompleksitas kanker yang semakin tinggi.

“Dengan informasi biomarker yang lebih lengkap, dokter dapat menentukan strategi terapi yang lebih tepat sesuai kondisi masing-masing pasien,” katanya.

Dari sisi medis, pendekatan ini dinilai mampu mengubah cara penanganan kanker, khususnya pada stadium lanjut. Spesialis Onkologi Paru, Dr. dr. Arif Riswahyudi Hanafi, menekankan pentingnya biomarker dalam menentukan arah terapi.

“Pada kanker paru, terutama stadium lanjut, ketersediaan informasi biomarker sangat menentukan pilihan terapi yang paling efektif bagi pasien,” ujarnya.

Sementara itu, Medical Director AstraZeneca Indonesia, dr. Feddy, menegaskan bahwa kemajuan terapi harus berjalan seiring dengan kemampuan diagnostik.

“NGS memungkinkan kita menerjemahkan kemajuan sains menjadi dasar keputusan klinis yang lebih akurat, sehingga pasien bisa mendapatkan terapi yang benar-benar sesuai dengan profil penyakitnya,” jelasnya.

Selain itu, kualitas proses laboratorium juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan implementasi teknologi ini. Spesialis Patologi Anatomi, dr. Grace Shalmont, menekankan pentingnya kualitas sampel untuk menghasilkan data yang valid.

“Ketepatan hasil sangat bergantung pada kualitas dan kecukupan sampel, serta standar proses yang diterapkan di laboratorium,” katanya.

Melalui kolaborasi ini, akses terhadap diagnostik kanker berbasis teknologi diharapkan semakin luas. Langkah tersebut diyakini dapat meningkatkan efektivitas terapi, kualitas hidup pasien, serta memperkuat ekosistem precision oncology di Indonesia.

Editor : Rico

Nasional
Berita Populer
Berita Terbaru