Rumah Sempit dan Minim Ventilasi, Warga Miskin Kota Makin Rentan Hadapi Panas Ekstrem

Reporter : Rico
Riset tersebut juga menemukan bahwa upaya mengurangi panas melalui peneduh, penghijauan, dan perbaikan ventilasi masih terkendala biaya.

theindonesiatimes.com - Panas ekstrem di kawasan perkotaan tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga memperbesar risiko kesehatan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Kondisi rumah yang minim ventilasi, keterbatasan ruang, dan sulitnya biaya perbaikan membuat warga di permukiman padat semakin rentan menghadapi suhu tinggi.

Temuan tersebut terungkap dalam riset Beyond Housing Types (BeHousing) yang dilakukan di Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Selangor, Malaysia. Penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan masyarakat menghadapi panas masih banyak bergantung pada upaya masing-masing keluarga, sementara dukungan pembiayaan dan kebijakan belum memadai.

Panas perkotaan juga berkaitan dengan fenomena urban heat island, yaitu kondisi ketika lingkungan perkotaan menyerap dan menyimpan panas akibat penggunaan material seperti beton dan aspal, minimnya ruang terbuka hijau, serta terbatasnya sirkulasi udara.

Peneliti Rujak Center for Urban Studies (RCUS), Benaya Valentino Ginting, menjelaskan bahwa dampak panas tidak dirasakan secara merata. Kondisi ekonomi, kualitas bangunan, dan ketersediaan sumber daya turut menentukan kemampuan warga mengurangi paparan panas.

Dampaknya tidak hanya berupa ketidaknyamanan fisik. Warga juga melaporkan keluhan seperti pusing, sakit kepala, keringat berlebih, batuk, dan sakit tenggorokan. Panas turut mengganggu aktivitas produktif, pekerjaan rumah tangga, serta waktu istirahat.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti mengatakan, hasil penelitian BeHousing dapat menjadi masukan bagi pengembangan kebijakan dan pembangunan yang lebih inklusif.

“Riset ini dibutuhkan. Hasil penelitian BeHousing penting sebagai masukan bagi pengembangan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan yang inklusif dan responsif,” ujarnya dalam Dialog Diseminasi Nasional Riset BeHousing di Jakarta, Sabtu (23/10/2026).

Riset tersebut juga menemukan bahwa upaya mengurangi panas melalui peneduh, penghijauan, dan perbaikan ventilasi masih terkendala biaya. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, penggunaan pendingin ruangan seperti AC belum tentu terjangkau.

Karena itu, penanganan panas perkotaan dinilai perlu didukung program perbaikan rumah, pembiayaan yang terjangkau, ruang terbuka hijau, serta fasilitas bersama yang lebih sejuk. Pemerintah juga didorong memperkuat koordinasi lintas sektor, mulai dari perumahan, kesehatan, tata ruang hingga penanggulangan bencana.

Riset BeHousing menegaskan bahwa rumah yang layak dan mampu mengurangi paparan panas merupakan bagian penting dari perlindungan kesehatan masyarakat. Tanpa dukungan kebijakan dan pembiayaan yang memadai, beban menghadapi panas berisiko terus ditanggung oleh warga yang memiliki sumber daya paling terbatas.

Editor : Rico

Nasional
Berita Populer
Berita Terbaru