TheIndonesiaTimes -Peringatan Hari Pahlawan Nasional yang jatuh pada 10 November, kembali menjadi momentum refleksi bagi bangsa Indonesia. Sekretaris Jenderal Nawasena Indonesia Emas, Andy Tanu, SE, menekankan bahwa kemerdekaan bangsa ini tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian para pendiri bangsa dalam menentukan sikap.

Menurut Andy, konteks kepahlawanan hari ini mengalami pergeseran. Jika dahulu para pahlawan berjuang melawan penjajah, kini tantangan terbesar datang dari dalam diri bangsa sendiri, seperti apatisme, ego kelompok, serta melemahnya kepedulian terhadap kepentingan bersama. “Di tengah polarisasi politik dan meningkatnya saling curiga, kita membutuhkan keberanian untuk tetap memilih persatuan,” ujarnya, Senin (10/11/2025).

Situasi ekonomi yang menantang serta dinamika ruang digital yang kian bising, menurutnya, membuat karakter publik lebih mudah terpecah hanya oleh isu-isu kecil. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk meneladani sikap pahlawan dengan cara yang sederhana namun konsisten: menjaga akal sehat, membangun empati, dan tetap bekerja demi kepentingan bangsa meski tanpa sorotan.

“Pahlawan masa kini adalah mereka yang mampu tetap jernih di tengah kegaduhan, yang menolak menjadi penonton dan memilih berperan menjaga arah perjalanan bangsa,” kata Andy. Ia menekankan bahwa Hari Pahlawan bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi pengingat bahwa kekuatan Indonesia bersumber dari warganya sendiri.