The Indonesia Times - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Kepala Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, secara terbuka melontarkan ancaman serangan militer pre-emptive terhadap Israel dan pangkalan-pangkalan Amerika Serikat (AS). Pernyataan keras ini muncul sebagai respons atas tekanan politik dan ancaman terbuka dari Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran.
Ancaman tersebut disampaikan di tengah situasi domestik Iran yang belum stabil. Gelombang protes besar meluas di berbagai kota, dipicu oleh tekanan ekonomi dan berkembang menjadi tuntutan politik yang menyasar legitimasi rezim. Kondisi ini turut memperkuat narasi campur tangan asing yang selama ini disuarakan elite Iran.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya ikut memperkeruh suasana dengan pernyataan bernada intimidatif.
Menanggapi kemungkinan keterlibatan AS dalam situasi Iran, Trump menyebut Washington terus mengawasi perkembangan di lapangan.
“Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan mendapat balasan yang sangat keras dari Amerika Serikat,” kata Trump, Minggu lalu.
Berbicara di hadapan para taruna akademi militer, Rabu (7/1/2026), Hatami menuding Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai pihak yang secara terbuka memusuhi Iran.
“Tidak ada keraguan tentang permusuhan Presiden AS dan Perdana Menteri Israel yang kriminal terhadap bangsa Iran,” ujar Hatami.
Hatami menegaskan, Teheran memandang pernyataan dan tekanan politik yang terus dilontarkan kedua negara tersebut bukan sekadar retorika. Menurutnya, campur tangan asing dalam urusan domestik Iran telah melewati batas.
“Republik Islam menganggap intensifikasi ancaman semacam ini sebagai tindakan bermusuhan dan tidak akan membiarkannya tanpa tanggapan,” tegasnya.
Ia juga mengklaim kesiapan militer Iran saat ini berada pada level tertinggi dalam sejarah modern negara tersebut. “Jika musuh melakukan kesalahan, mereka akan menghadapi respons yang lebih tegas. Kami akan memotong tangan setiap agresor,” kata Hatami dengan nada mengancam.
Sikap keras tersebut diperkuat oleh pernyataan Dewan Pertahanan Iran yang baru dibentuk. Dewan itu secara eksplisit membuka kemungkinan Iran melancarkan serangan lebih dulu apabila melihat tanda-tanda ancaman nyata terhadap kepentingan nasional.
Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah, Dewan Pertahanan menyebut bahwa tuduhan dan tekanan politik yang berujung pada intervensi dapat dikategorikan sebagai tindakan permusuhan jika melampaui sekadar wacana.
“Keamanan, kemerdekaan, dan integritas teritorial Iran adalah garis merah yang tidak dapat dinegosiasikan,” bunyi pernyataan tersebut.
Dewan itu menegaskan bahwa Iran tidak membatasi doktrin pertahanannya hanya pada respons setelah diserang. Ancaman yang dinilai kredibel akan masuk dalam kalkulasi keamanan nasional.
“Setiap pelanggaran terhadap kepentingan nasional atau campur tangan dalam urusan internal Iran akan dibalas secara proporsional, tepat sasaran, dan tegas,” lanjut pernyataan itu.
Pernyataan keras dari Teheran ini menandai eskalasi baru dalam hubungan Iran-AS-Israel, sekaligus memperbesar risiko konflik terbuka di kawasan yang selama ini sudah rentan. Ketika tekanan ekonomi bertemu ancaman militer, Timur Tengah kembali berada di persimpangan berbahaya.