The Indonesia Times - Industri perbankan global menghadapi peringatan serius terkait perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang dinilai berpotensi mengancam sistem keamanan digital. Sejumlah model AI canggih dilaporkan mampu mengeksploitasi celah pada sistem perusahaan, bahkan dalam beberapa kasus berjalan tanpa kendali penuh manusia.
CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, menjadi salah satu tokoh yang mendorong kewaspadaan sektor keuangan. Ia mengajak pimpinan perusahaan besar di Amerika Serikat untuk bersatu melindungi infrastruktur kritis dari potensi penyalahgunaan teknologi AI.
Baca juga: Huawei Perkuat Ekosistem AI dengan Kehadiran MatePad Pro Max di Indonesia
Langkah tersebut diwujudkan melalui pembentukan aliansi lintas sektor bernama Alliance for Critical Infrastructure (ACI), yang sejak Juli 2026 telah melibatkan lebih dari 40 perusahaan dari berbagai bidang, mulai dari keuangan, energi, telekomunikasi, hingga transportasi.
ACI bertujuan mengidentifikasi risiko tersembunyi dari penggunaan AI sekaligus merumuskan standar pengamanan yang lebih kuat. Selain itu, kelompok ini juga diproyeksikan menjadi mitra pemerintah AS dalam menyusun kebijakan terkait pengawasan dan pengendalian teknologi AI.
Baca juga: Amerika Serikat Tahan Dana US$6 Miliar Iran, Ini Syarat Pencairannya
“Kelompok ini akan membantu menjadi jembatan antara sektor swasta dan pemerintah,” ujar Dimon, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi ancaman baru di era digital, Minggu (9/8/2026).
Sebelumnya, Dimon juga telah mengingatkan bahwa kemampuan AI tingkat lanjut, seperti model terbaru yang diperkenalkan perusahaan teknologi, dapat menjadi berbahaya jika tidak diawasi ketat. Ia bahkan mengibaratkan teknologi tersebut seperti “senjata berdaya besar” jika jatuh ke pihak yang salah.
Baca juga: Kinerja Layanan Meningkat, Bank Jakarta Sabet Tiga Award Customer Experience 2026
Di sisi lain, pemerintah federal AS turut merespons dengan meluncurkan inisiatif bernama Gold Eagle. Program ini mempertemukan pengembang AI, operator infrastruktur vital, dan lembaga pemerintah untuk memetakan potensi kerentanan serta menyusun langkah mitigasi.
Perkembangan ini menandai meningkatnya perhatian global terhadap risiko keamanan dari AI, terutama bagi sektor perbankan yang sangat bergantung pada sistem digital. Para pelaku industri kini dituntut tidak hanya memanfaatkan AI untuk efisiensi, tetapi juga memastikan teknologi tersebut tidak menjadi celah ancaman baru.
Editor : Rico