The Indonesia Times -Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, kian menguat posisinya sebagai destinasi wisata alam unggulan di Indonesia bagian timur. Pantai pasir putih, laut sejernih kaca, pulau-pulau alami, hingga wisata budaya yang autentik menjadikan wilayah berjuluk “seribu pulau” ini semakin dilirik wisatawan domestik dan mancanegara.

Namun sebelum wisatawan menikmati keindahan Pantai Ngurbloat atau menyusuri pasir timbul Ngurtavur, ada satu kota yang menjadi titik awal seluruh perjalanan menuju Kei, yakni Langgur, ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara.

Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun, menegaskan bahwa Langgur bukan sekadar kota transit, melainkan bagian penting dari pengalaman berwisata di Kepulauan Kei. Selain panorama alamnya, Langgur menyuguhkan kekuatan sosial budaya yang khas dan membekas bagi para pengunjung.

“Langgur mencerminkan nilai Ain ni Ain—kita semua bersaudara. Nilai ini hidup dalam keseharian masyarakat, mulai dari pasar tradisional, bandara, hingga cara warga menyambut pendatang,” ujar Thaher, Rabu (14/1/2026).

Nilai kebersamaan tersebut, menurutnya, bukan sekadar simbol, tetapi identitas masyarakat Kei yang diwariskan lintas generasi. Keramahan warga, suasana kota yang tenang, serta kedekatan dengan alam menjadikan Langgur sebagai pengantar sempurna menuju pesona Kepulauan Kei.

Seluruh akses udara ke wilayah ini bermuara di Bandara Karel Sadsuitubun (LUV) yang berada di Desa Ibra, Kecamatan Kei Kecil. Bandara tersebut menjadi simpul utama transportasi, logistik, dan pelayanan publik di Maluku Tenggara, sekaligus gerbang awal bagi ribuan wisatawan setiap tahunnya.

Dari Langgur, wisatawan dapat langsung merasakan ritme kehidupan kepulauan: laut biru terbentang dari jendela pesawat, udara laut yang segar, serta suasana kota yang bersahaja. Kota ini menjadi ruang singgah untuk beristirahat sebelum menjelajah pulau-pulau eksotis di sekitarnya.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Maluku Tenggara, Victor E. Budhi Toffi, menyebut Langgur menawarkan pengalaman wisata tersendiri.

Dalam jarak tempuh singkat, wisatawan dapat mengunjungi Goa Hawang di Desa Letvuan, menikmati air sebening kaca yang sarat legenda lokal, atau sekadar berjalan di pesisir untuk menikmati panorama laut Kei.

“Langgur bukan kota persinggahan biasa. Ia adalah fondasi perjalanan wisata, tempat mengenal kehidupan lokal, sekaligus titik awal menuju destinasi unggulan Maluku Tenggara,” kata Victor.

Kepercayaan diri Pemkab Maluku Tenggara kian menguat seiring tren peningkatan kunjungan wisatawan sepanjang 2025.

Data menunjukkan lonjakan terjadi pada periode Juli–Oktober, bertepatan dengan musim liburan nasional dan meningkatnya promosi wisata Kei di berbagai kanal digital.

Destinasi dengan jumlah kunjungan tertinggi antara lain Air Terjun Soindrat, Bukit Indah Bombay, Air Terjun Bombay, Pantai Ngursarnadan, dan Pantai Ngurtavur. Wisatawan didominasi pelancong domestik dan lokal, dengan wisatawan mancanegara meningkat signifikan pada semester kedua tahun 2025.

Beberapa destinasi unggulan Kepulauan Kei yang menjadi daya tarik utama wisatawan meliputi Pantai Ngurbloat dengan pasir sehalus tepung, Pantai Matwaer yang tenang dan alami, Pantai Ngiarwarat untuk pencari ketenangan, Pantai Ngurtavur dengan fenomena pasir timbul, hingga Goa Hawang yang memadukan alam dan legenda.

Selain wisata bahari, Kepulauan Kei juga menawarkan wisata budaya seperti Desa Wisata Ur Pulau, Kampung Adat Tanimbar Kei, dan Kampung Adat Wulurat di Pulau Kei Besar, yang memperkaya pengalaman wisata dengan nilai adat, toleransi, dan kearifan lokal.

Pemkab Maluku Tenggara pun terus mengampanyekan tagar #KEIndahanIndonesiadimulaidisini dan #VisitKei, menegaskan bahwa Langgur adalah bagian tak terpisahkan dari cerita perjalanan menuju surga wisata Kepulauan Kei.