The Indonesia Times - Meluasnya kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia mulai berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Krisis air bersih yang terjadi tidak hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko kesehatan dan beban biaya hidup warga.
Anggota Komisi V DPR RI, Irmawan, menilai pemerintah daerah perlu segera mengambil langkah cepat dan terukur untuk mengantisipasi dampak yang semakin luas. Ia mengingatkan bahwa krisis air bersih merupakan persoalan mendasar yang bisa memicu masalah lanjutan jika tidak segera ditangani.
Baca juga: El Nino Capai 98 Persen, Risiko Lonjakan Harga Pangan Tak Terhindarkan
“Bukan hanya soal kekurangan air, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan, sanitasi, hingga ekonomi keluarga. Ini harus menjadi perhatian serius,” ujar Irmawan, Rabu (8/7/2026).
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat kekeringan akibat fenomena El Nino melanda sejumlah wilayah, termasuk Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga sebagian Jawa Barat. Di Jawa Barat sendiri, lebih dari 10.000 warga dilaporkan mengalami krisis air bersih di beberapa daerah terdampak.
Baca juga: Sungai Eufrat Terancam Kering 2040, Ilmuwan Ingatkan Bahaya Besar
Irmawan menekankan, keterbatasan air bersih dapat menghambat aktivitas dasar seperti memasak, mandi, dan menjaga kebersihan lingkungan. Kondisi ini juga berisiko meningkatkan penyakit akibat sanitasi buruk serta mengganggu produktivitas masyarakat.
Untuk penanganan jangka pendek, DPR mendorong distribusi air bersih melalui mobil tangki dan penyediaan tandon komunal agar kebutuhan warga tetap terpenuhi tanpa menambah beban biaya. Sementara itu, untuk jangka panjang, pemerintah daerah diminta memperkuat ketahanan air melalui pembangunan embung, waduk, sumur bor, serta pemanenan air hujan.
Baca juga: Akses Air Bersih Jadi Fokus Pemulihan Pascabanjir di Pasar Rakyat
Ia menegaskan, kekeringan tahunan harus dijadikan momentum untuk memperbaiki pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. “Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban setiap musim kemarau datang,” katanya.
Desakan ini menegaskan pentingnya langkah antisipatif dan kolaborasi lintas sektor agar krisis air bersih tidak berkembang menjadi masalah sosial yang lebih luas.
Editor : Rico