The Indonesia Times - PTPN I Regional 5 menggandakan luas areal tanam tembakau di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dari 25 hektare menjadi 50 hektare pada musim tanam 2026. 

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan memperkuat produksi tembakau berorientasi ekspor sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

Perluasan areal tanam ditandai dengan kegiatan tanam perdana di Kecamatan Kebonarum yang dihadiri jajaran manajemen perusahaan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta kelompok tani setempat.

Region Head PTPN I Regional 5, Subagiyo, mengatakan peningkatan luas tanam diharapkan mampu memperkuat posisi Klaten sebagai salah satu daerah penghasil tembakau berkualitas untuk pasar internasional.

“Dengan perluasan areal tanam menjadi 50 hektare, kami berharap manfaat ekonomi yang tercipta semakin besar, baik melalui penyerapan tenaga kerja maupun peningkatan aktivitas usaha masyarakat,” ujar Subagiyo.

Pada musim tanam tahun ini, perusahaan mengembangkan tembakau Besuki Na-Oogst yang ditanam di bawah naungan (TBN). Komoditas tersebut dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi karena menjadi bahan baku cerutu premium yang dipasarkan ke Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa.

PTPN I Regional 5 menargetkan produktivitas mencapai 1.700 kilogram per hektare. Siklus budidaya berlangsung sekitar tujuh bulan dengan satu kali masa panen setiap tahun.

Di tengah prospek pasar yang masih terbuka, sektor budidaya tembakau tetap menghadapi sejumlah tantangan. Perubahan pola cuaca dan ketersediaan tenaga kerja menjadi faktor yang memengaruhi proses produksi di lapangan.

Untuk menjaga kualitas hasil panen, perusahaan menerapkan berbagai langkah teknis, mulai dari pengaturan naungan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, pemupukan berimbang, hingga pengelolaan sumber daya air.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem pertanian, PTPN I Regional 5 juga menyalurkan bantuan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) senilai Rp99,9 juta.

Bantuan tersebut diwujudkan dalam bentuk 38 titik sumur bor dan tujuh unit mesin pompa air yang disebar di tujuh desa, yakni Towangsan, Sukorejo, Jetis, Pluneng, Nglinggi, Manjung, dan Karanglo.

Menurut Kepala Bagian Sekretariat dan Umum PTPN I Regional 5, Reggy Irawan Setiyobudi, penyediaan sarana air menjadi salah satu kebutuhan mendasar bagi petani, terutama saat memasuki musim kemarau.

“Kami berharap fasilitas tersebut dapat meningkatkan ketersediaan air untuk lahan pertanian sehingga petani memiliki peluang meningkatkan intensitas tanam hingga dua kali dalam setahun,” katanya.

Manfaat program tersebut telah dirasakan langsung oleh petani. Dalino, petani asal Desa Sukorejo, menyebut bantuan sumur bor dan pompa air mampu mengurangi kendala yang selama ini dihadapi petani dalam memenuhi kebutuhan irigasi.

“Petani sangat terbantu karena akses air menjadi lebih mudah. Ketersediaan air yang cukup akan berpengaruh terhadap produktivitas lahan,” ujarnya.

Program TJSL tersebut dijalankan dengan pendekatan Creating Shared Value (CSV), yakni model pembangunan yang menggabungkan kepentingan bisnis dengan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Hasil evaluasi perusahaan menunjukkan program tersebut menghasilkan nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 16,19, jauh melampaui target perusahaan yang berada pada angka 3. 

Capaian tersebut menunjukkan manfaat sosial dan ekonomi yang diterima masyarakat lebih besar dibandingkan nilai investasi yang dikeluarkan.

Bagi PTPN I Regional 5, keberhasilan pengembangan komoditas perkebunan tidak hanya diukur dari capaian produksi dan ekspor, tetapi juga dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Karena itu, perluasan areal tembakau di Klaten diharapkan tidak hanya memperkuat rantai pasok industri cerutu premium, tetapi juga mendorong kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi pedesaan secara berkelanjutan.