The Indonesia Times - Gugurnya tiga anggota kepolisian saat penggerebekan bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kalimantan Tengah, menyoroti tingginya risiko operasi penindakan di lapangan.
Ketiga anggota yang gugur, Aipda Yudhie Perdana Putra, Aiptu Sumaryanto, dan Bripda Nopandri Ramadhana, dilaporkan tewas setelah mendapat perlawanan dari pelaku saat operasi berlangsung pada Rabu (1/7) malam.
Baca juga: Warga Tanjung Mulia Deklarasi Perang Narkoba, Desak Polisi Bertindak Tegas
Peristiwa ini menunjukkan bahwa jaringan narkoba di sejumlah wilayah masih memiliki kemampuan melakukan perlawanan yang membahayakan aparat. Kondisi tersebut dinilai memerlukan kesiapan taktis dan dukungan operasional yang lebih kuat dalam setiap penindakan.
Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, menyampaikan duka cita atas kejadian tersebut sekaligus menekankan pentingnya pengusutan kasus hingga tuntas. Ia meminta aparat penegak hukum tidak hanya menangkap pelaku di lapangan, tetapi juga mengungkap jaringan yang lebih luas.
Baca juga: Gembong Narkoba Ditangkap di Sunggal, Ribuan Ekstasi Disita: Aparat Kejar Jaringan hingga TPPU
“Mabes Polri harus turun langsung agar kasus ini terungkap menyeluruh dan tidak berhenti di pelaku lapangan,” ujarnya, Senin (6/7/2026).
Selain penindakan hukum, peristiwa ini juga memunculkan dorongan untuk evaluasi strategi operasi, terutama dalam menghadapi kelompok yang diduga terorganisir dan berpotensi melakukan perlawanan bersenjata.
Baca juga: KRI Imam Bonjol Amankan Kapal Ikan, Diduga Ada Pesta Sabu di Laut
Upaya pemberantasan narkoba dinilai tetap harus berjalan, namun dengan perencanaan yang lebih matang serta dukungan personel dan perlengkapan yang memadai guna meminimalkan risiko terhadap petugas di lapangan.
Editor : Rico