The Indonesia Times - Lonjakan harga minyak dunia hingga menembus US$100 per barel mendorong pemerintah mempercepat strategi diversifikasi impor energi guna menjaga ketahanan pasokan nasional.

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan konflik di kawasan Selat Hormuz telah mengganggu jalur distribusi utama minyak ke Asia dan memicu tekanan besar pada pasar energi global.

“Pemerintah kini mencari sumber impor alternatif di luar jalur konflik untuk memastikan pasokan BBM dan LPG tetap aman,” ujarnya dalam diskusi di DPR RI, Selasa (14/4/2026).

Sebagai langkah cepat, pemerintah memperkuat kerja sama bilateral, termasuk tambahan pasokan LPG dari Jepang. Selain itu, pengadaan energi juga mulai dialihkan ke sumber yang tidak melewati kawasan rawan konflik.

Tak hanya mengandalkan impor, pemerintah juga mengoptimalkan kapasitas kilang domestik untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Di sisi lain, pengendalian konsumsi energi mulai diperketat agar cadangan tetap terjaga selama gejolak berlangsung.

Laode menegaskan, krisis ini menjadi sinyal kuat bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan energi Timur Tengah dan mempercepat transisi menuju kemandirian energi. “Ini bukan sekadar mitigasi jangka pendek, tetapi momentum membangun strategi energi jangka panjang yang lebih tahan terhadap risiko geopolitik,” tegasnya.

Pemerintah memproyeksikan tekanan global masih berlanjut, sehingga diversifikasi sumber energi dan percepatan transisi menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi nasional.