TheIndonesiaTimes - Lahan perkebunan jambu merah yang sempat terbengkalai kini menjelma menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat di Sambibulu, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo.
Melalui pengelolaan Klaster Usaha Jambu Merah yang dipimpin Ahmad Irdhoni, perkebunan seluas lima hektare itu mampu menghasilkan sekitar 100 ton buah per tahun dengan keuntungan mencapai Rp50 juta hingga Rp60 juta per bulan.
Perkembangan usaha yang melibatkan 20 anggota kelompok tersebut tidak lepas dari perjalanan panjang membangun kembali perkebunan, menemukan pasar, hingga memperkuat kapasitas produksi.
Dukungan pembiayaan dan pendampingan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI turut menjadi bagian dari proses pengembangan usaha.
Ahmad Irdhoni, yang akrab disapa Pak Doni, mengungkapkan, perkebunan jambu merah di Sambibulu sebenarnya sudah ada sejak 2004. Kala itu, terdapat sekitar 1.000 pohon jambu yang ditanam di atas lahan milik desa.
Namun, ketika memasuki masa panen raya pertama pada 2005 hingga 2007, pengelola menghadapi persoalan serius. Produksi buah yang melimpah tidak diimbangi kemampuan pemasaran sehingga sebagian besar hasil panen kesulitan terserap pasar.
"Awalnya, kebun jambu ini sudah memiliki sekitar 1.000 pohon sejak 2004. Namun, ketika panen raya pertama pada 2005 hingga 2007, kami menghadapi kendala pemasaran. Saat itu belum memiliki jaringan pasar yang memadai sehingga hasil panen sulit dijual. Akibatnya, hanya sekitar 100 pohon yang masih dirawat dan pada 2008 lahan akhirnya terbengkalai," ujar Ahmad.
Melihat potensi perkebunan yang belum dimanfaatkan secara optimal, Ahmad kemudian berinisiatif menyewa lahan milik desa pada 2013. Langkah itu menjadi titik awal kebangkitan perkebunan jambu merah Sambibulu.
Kelompok usaha tersebut resmi berdiri pada 28 Oktober 2013. Sejak saat itu, Ahmad mulai membangun kembali perkebunan sekaligus mencari jaringan pemasaran agar persoalan yang pernah terjadi tidak terulang.
"Melihat potensi lahan yang belum dimanfaatkan, pada 2013 saya berinisiatif menyewa lahan perkebunan milik desa. Kami kemudian mulai membangun kembali usaha jambu merah ini pada 28 Oktober 2013. Tantangan pertama yang harus diselesaikan adalah menemukan pasar agar hasil panen bisa terserap," katanya.
Upaya membangun jaringan pemasaran dilakukan secara bertahap. Ahmad mulai menjajaki pasar grosir di wilayah Sidoarjo dan Surabaya.
Selain pemasaran secara langsung, media sosial Facebook dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli.
Strategi tersebut perlahan membuahkan hasil. Jambu merah dari Sambibulu mulai menjangkau pasar grosir di Sidoarjo, Surabaya, dan Malang. Permintaan juga datang dari restoran di Bali, usaha katering, serta pembeli dari sejumlah kota besar.
"Setelah menemukan pasar grosir di Sidoarjo dan Surabaya, kami mulai mengembangkan pemasaran melalui media sosial, khususnya Facebook. Dari situ, jaringan pembeli semakin luas. Sekarang pemasaran sudah menjangkau Sidoarjo, Surabaya, Malang, restoran di Bali, katering, hingga sejumlah kota besar lainnya," tutur Ahmad.
Meluasnya jaringan pemasaran membuat aktivitas perkebunan semakin berkembang. Tidak hanya berfokus pada produksi dan penjualan buah, pengelola juga mulai membuka kawasan perkebunan untuk kegiatan edukasi dan agrowisata.
Saat ini, perkebunan seluas lima hektare tersebut mampu menghasilkan sekitar 100 ton jambu merah setiap tahun. Puncak panen biasanya berlangsung pada Februari hingga April.
Dari aktivitas usaha tersebut, kelompok mampu memperoleh keuntungan sekitar Rp50 juta hingga Rp60 juta per bulan. Untuk memperluas potensi pendapatan, pengelola juga mulai mengembangkan tanaman jeruk nipis sebagai komoditas tambahan.
Ahmad menilai, jambu merah memiliki potensi ekonomi yang sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal. Tanaman yang kerap dianggap tumbuh liar itu ternyata dapat menjadi sumber penghasilan apabila dikelola secara serius dan memiliki akses pasar.
"Jambu merah ini sebenarnya bisa dikategorikan sebagai tanaman liar. Namun, kalau dikelola dengan baik, ternyata memiliki nilai ekonomi yang cukup besar. Keunikan perkebunan kami adalah lokasinya berada di kawasan perkotaan, tetapi memiliki lahan yang luas dan bisa dikembangkan menjadi tempat edukasi agrowisata," ungkapnya.
KUR BRI Bantu Perkuat Permodalan Usaha
Dalam perjalanan mengembangkan usaha, akses permodalan menjadi salah satu kebutuhan penting bagi Klaster Jambu Merah Sambibulu. Kelompok tersebut kemudian mendapatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.
Ahmad menceritakan, pembiayaan KUR pertama yang diterima sebesar Rp25 juta. Seiring perkembangan usaha dan meningkatnya kebutuhan modal, fasilitas pembiayaan yang diperoleh kemudian berkembang hingga Rp100 juta.
Akses pembiayaan itu bermula dari pendekatan mantri BRI yang aktif melakukan penyuluhan dan menawarkan fasilitas kredit untuk mendukung pengembangan usaha.
Selain KUR, kelompok juga mendapatkan informasi mengenai fasilitas pembiayaan Kupedes untuk kebutuhan pengembangan yang lebih besar.
"Awalnya kami mendapatkan pembiayaan KUR sebesar Rp25 juta, kemudian berkembang hingga Rp100 juta. Kami juga mendapatkan pendampingan dari mantri BRI yang aktif memberikan penyuluhan dan menawarkan solusi pembiayaan sesuai kebutuhan pengembangan usaha," paparnya.
Menurut Ahmad, manfaat kemitraan dengan BRI tidak hanya dirasakan dari sisi tambahan modal. Pendampingan yang diberikan juga membantu kelompok beradaptasi dengan perkembangan teknologi, terutama dalam sistem pembayaran.
Sebelum mendapatkan pendampingan, transaksi penjualan sebagian besar masih menggunakan uang tunai. Kini, kelompok mulai menerapkan pembayaran digital melalui QRIS dan transfer perbankan sehingga transaksi dengan pelanggan menjadi lebih praktis.
"Sebelumnya, pembayaran masih banyak dilakukan secara tunai. Setelah mendapatkan pendampingan BRI, kami mulai mengenal pembayaran digital melalui QRIS dan transfer. Pendampingannya sangat bagus. Mantri BRI juga sangat aktif memberikan penyuluhan digital dan sangat membantu. Bahkan, pada jam-jam tertentu selalu tersedia ketika kami membutuhkan bantuan," kata Ahmad.
Selain digitalisasi pembayaran, pendampingan juga mencakup pelatihan bagi karyawan serta upaya memperluas jaringan pemasaran. Ahmad menyebut, BRI turut membantu membuka peluang pasar bagi kelompok usaha yang dipimpinnya.
Dukungan lainnya berupa bantuan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan perkebunan. Kelompok memperoleh mesin pengering, alat vakum untuk pengemasan, fasilitas jembatan untuk akses parkir, serta pemasangan jaringan listrik PLN.
"Selain pembiayaan dan pendampingan, kami juga mendapatkan bantuan mesin pengering, alat vakum untuk pengemasan, fasilitas jembatan untuk akses parkir, serta pemasangan listrik PLN. Fasilitas tersebut sangat membantu menunjang kegiatan operasional dan pengembangan usaha," terangnya
Bagi Ahmad, pengembangan Klaster Jambu Merah Sambibulu masih memiliki peluang besar. Ia berharap usaha yang telah dibangun bersama anggota kelompok dapat menjangkau pasar lebih luas, meningkatkan kapasitas produksi, serta memberikan manfaat ekonomi yang semakin besar bagi masyarakat sekitar.
"Harapan kami, usaha ini bisa menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan kapasitas produksi. Kami juga ingin terus mengembangkan perkebunan agar manfaatnya semakin dirasakan anggota kelompok maupun masyarakat sekitar. Semoga hubungan baik dengan BRI, terutama dalam hal permodalan dan pendampingan usaha, bisa terus terjalin," ucapnya.
Sementara itu, Pemimpin Kantor Cabang BRI Waru, M. Nabhan Tamam, mengatakan BRI berkomitmen memperkuat ekosistem pemberdayaan UMKM melalui dukungan finansial, peningkatan kapasitas usaha, serta perluasan akses pasar.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif pemberdayaan, salah satunya program Klasterkuhidupku. Program ini mempertemukan pelaku usaha yang berada dalam satu wilayah atau memiliki kesamaan jenis komoditas dan produk agar dapat berkembang bersama.
Melalui pendekatan klaster, BRI berupaya mendorong pelaku usaha agar tidak hanya memiliki akses terhadap pembiayaan, tetapi juga mendapatkan pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan bisnis.
Hingga saat ini, BRI Kantor Cabang Waru telah memberdayakan tiga klaster usaha.
"Kami berkomitmen memberikan pendampingan dan membantu pelaku UMKM. Tidak hanya berupa modal usaha, tetapi juga melalui pelatihan-pelatihan usaha dan program pemberdayaan lainnya, sehingga UMKM dapat tumbuh dan berkembang," tutup Nabhan.