Rupiah Anjlok ke Rp17.900, Investor Beralih ke Aset Safe Haven

Reporter : Rico
Mata uang dollar AS. Foto dok Wikipedia

The Indonesia Times - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan setelah dolar Amerika Serikat (AS) menguat hingga menembus level Rp17.900. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kombinasi risiko global dan domestik yang membayangi stabilitas mata uang negara berkembang.

Berdasarkan data pasar, dolar AS sempat menyentuh Rp17.949 dengan pergerakan harian di kisaran Rp17.772 hingga Rp17.995. Sementara itu, pada perdagangan terbaru, dolar berada di sekitar Rp17.850 atau menguat 0,37%.

Baca juga: Negosiasi Buntu, Iran Siap Buka Front Baru Hadapi Amerika dan Israel

Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya memanasnya hubungan AS dan Iran, mendorong kekhawatiran gangguan distribusi energi dunia. Kondisi ini membuat investor cenderung mencari perlindungan di dolar AS.

Selain itu, ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama turut memperkuat dolar. Kebijakan tersebut dinilai mempersempit ruang bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk menarik aliran modal asing.

Baca juga: Donald Trump Setujui Gencatan Senjata Tanpa Batas dengan Iran, Ini Alasannya

Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh arus dana global yang beralih ke aset aman. “Faktor eksternal dan domestik terjadi bersamaan, sehingga memberi tekanan signifikan pada rupiah,” ujarnya, Kamis (29/5/2026).

Di dalam negeri, permintaan dolar yang meningkat untuk kebutuhan impor energi, pembayaran dividen, serta utang jatuh tempo turut menekan rupiah. Pelaku pasar juga masih mencermati kondisi fiskal dan efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Baca juga: Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir Besok, Trump Tunggu Hasil Negosiasi

Meski Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar valuta asing, tekanan terhadap rupiah dinilai masih cukup kuat. “Intervensi sudah dilakukan maksimal, tetapi tekanan pasar masih besar,” kata Ibrahim.

Situasi ini menempatkan rupiah dalam posisi rentan, terutama jika sentimen global dan kebutuhan dolar domestik terus meningkat dalam waktu dekat.

Editor : Rico

Nasional
Berita Populer
Berita Terbaru