The Indonesia Times - Hasil penelitian di perguruan tinggi kerap berhenti sebagai publikasi ilmiah. Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) ingin mengubah kondisi tersebut dengan memperkuat hilirisasi riset melalui kolaborasi bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.
Kolaborasi itu diwujudkan lewat penyelenggaraan program SMART CPKB dan PATRIOTISME di Gedung Nanizar Zaman Joenoes (NANI), Kampus C UNAIR, Selasa (8/7/2026). Kegiatan menghadirkan regulator, akademisi, peneliti, dan pelaku industri untuk menyamakan pemahaman mengenai regulasi sekaligus mempercepat lahirnya produk kesehatan berbasis riset.
Baca juga: Tak Gentar Hadapi Tantangan, Alumni Farmasi UNAIR Ini Tembus Puncak Karier Industri Farmasi
Bagi perguruan tinggi, pemahaman terhadap regulasi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam membawa hasil penelitian masuk ke dunia industri. Karena itu, BPOM memberikan sosialisasi sekaligus bimbingan teknis mengenai Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB).
Tak hanya kosmetik, peserta juga memperoleh pembaruan regulasi melalui program PATRIOTISME yang mencakup obat bahan alam, obat kuasi, suplemen kesehatan, hingga kosmetik. Materi tersebut diharapkan mempermudah proses penelitian, pengembangan, registrasi, sampai komersialisasi produk.
Dekan Fakultas Farmasi UNAIR, Prof. apt. Dewi Melani Hariyadi, S.Si., M.Phil., Ph.D., mengatakan sinergi antara kampus dan regulator menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti di laboratorium.
Baca juga: Fakta Sidang Blueray Cargo: John Field Ungkap Suap Rp91 Miliar ke Pejabat
"Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk menjembatani hasil penelitian akademik menuju produk inovasi yang siap dimanfaatkan masyarakat. Hilirisasi produk merupakan wujud nyata riset berdampak yang sejalan dengan tujuan Universitas Airlangga," ujarnya.
Kegiatan dibuka oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM RI, apt. Mohamad Kashuri, S.Si., M.Farm. Alumni Fakultas Farmasi UNAIR itu menjelaskan BPOM terus membuka ruang kolaborasi agar hasil riset lebih cepat masuk ke pasar.
Menurutnya, salah satu instrumen yang disiapkan adalah platform BRIDGE, yang menghubungkan peneliti, pelaku usaha, investor, dan regulator dalam proses hilirisasi inovasi.
"Upaya Badan POM dalam hilirisasi dan komersialisasi produk inovasi ditunjukkan melalui program BRIDGE. BRIDGE menjembatani peneliti, pelaku usaha, dan para pemangku kepentingan sehingga hasil riset dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," kata Kashuri.
Selain paparan regulasi, peserta mengikuti coaching clinic penggunaan aplikasi BRIDGE. Mereka mendapat pendampingan mulai dari pengenalan fitur, proses verifikasi, mekanisme seleksi, hingga pemanfaatan sistem untuk mendukung sertifikasi dan pengawasan produk.
Baca juga: Edukasi Keuangan Digital, BRI Sasar Calon Mahasiswa di AEE 2026
Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM RI, apt. Dian Putri Anggraweni, S.Si., M.Farm., serta Direktur Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM RI, Imelda Ester Riana P., S.T., M.K.M., turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Kolaborasi antara Fakultas Farmasi UNAIR dan BPOM diharapkan mempercepat lahirnya produk kesehatan berbasis riset yang memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat. Langkah tersebut sekaligus memperkuat daya saing industri kesehatan nasional dengan menghadirkan inovasi yang benar-benar siap dimanfaatkan masyarakat.
Editor : Doni Nugroho