TheIndonesiaTimes - Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap kelompok ISIS di Suriah sebagai balasan atas tewasnya dua tentara AS dan seorang penerjemah di Palmyra pekan lalu. Presiden AS Donald Trump menyebut operasi tersebut berhasil dan tepat sasaran.

Dalam pidato di Rocky Mount, Carolina Utara, Jumat malam waktu setempat, Trump mengatakan ia secara langsung memerintahkan serangan tersebut. “Saya memerintahkan serangan besar terhadap teroris yang membunuh tiga patriot hebat kita minggu lalu. Operasi ini sangat sukses dan tepat sasaran,” ujar Trump.

Trump menambahkan, serangan itu merupakan bagian dari upaya Amerika Serikat untuk memulihkan stabilitas global melalui kekuatan militer. Menurut Rami Abdel Rahman, Kepala Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah, sedikitnya lima anggota ISIS tewas dalam serangan di Provinsi Deir Az Zor, Suriah timur. Di antara korban terdapat pemimpin sel ISIS yang bertanggung jawab atas operasi drone di wilayah tersebut.

Sumber keamanan Suriah menyebutkan, serangan AS menargetkan sel-sel ISIS di wilayah gurun Badia, mencakup Provinsi Homs, Deir Az Zor, dan Raqqa. Operasi ini dilaporkan hanya melibatkan serangan udara tanpa pengerahan pasukan darat.
Dukungan terhadap operasi tersebut juga datang dari pemerintah baru Suriah.

Melalui pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Suriah menegaskan komitmennya untuk memerangi ISIS dan membuka kerja sama dengan Amerika Serikat serta koalisi internasional. “Suriah menegaskan kembali komitmen teguhnya untuk memerangi ISIS dan memastikan kelompok tersebut tidak memiliki tempat aman di wilayah kami,” bunyi pernyataan kementerian tersebut, Senin (22/12/2025).

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa serangan ini bukan awal dari perang baru. “Ini bukan deklarasi perang, ini adalah pembalasan. Kami memburu dan menghancurkan pejuang ISIS, infrastruktur, dan persenjataan mereka,” kata Hegseth dalam unggahan media sosial.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pihaknya mengerahkan jet tempur, helikopter serang, dan artileri, serta melepaskan lebih dari 100 amunisi presisi ke sekitar 70 target yang diyakini menyimpan infrastruktur dan senjata ISIS.

Jurnalis Al Jazeera, Ayman Oghanna, melaporkan dari Damaskus bahwa ledakan besar terdengar di wilayah Suriah tengah dan timur laut sepanjang malam. Serangan ini dinilai menambah tekanan bagi pemerintah baru Suriah untuk memperkuat kerja sama keamanan regional dalam memberantas ISIS. Serangan tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan satu tahun tumbangnya rezim Bashar al-Assad, di tengah upaya Suriah bangkit dari konflik berkepanjangan dan ancaman sisa-sisa ISIS yang masih aktif.