The Indonesia Times - Iran membuka akses Selat Hormuz selama dua minggu sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat. Meski memberi ruang bagi lalu lintas maritim global, langkah ini menegaskan bahwa Teheran masih memegang kendali atas jalur energi paling vital di dunia.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan pembukaan jalur dilakukan dengan pengawasan ketat militer. “Selama dua minggu, jalur aman dibuka melalui Selat Hormuz melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” ujarnya, Kamis (8/4/2026).

Pembukaan ini berlangsung seiring gencatan senjata dua pekan yang juga dimanfaatkan sebagai momentum negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat. Perundingan dijadwalkan berlangsung di Islamabad, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator utama.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebut masa negosiasi dapat diperpanjang jika kedua pihak mencapai kesepakatan lanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa jeda konflik masih bersifat sementara dan bergantung pada hasil diplomasi.

Sementara itu, Perdana Menteri Shehbaz Sharif memastikan bahwa gencatan senjata tidak hanya berlaku di Iran, tetapi juga mencakup kawasan lain seperti Lebanon. “Gencatan senjata segera berlaku di mana pun, termasuk Lebanon dan tempat lain,” tulisnya.

Meski jalur pelayaran dibuka, keputusan yang dibatasi hanya dua minggu memunculkan sinyal bahwa akses Selat Hormuz tetap menjadi instrumen tekanan dalam konflik. Dengan posisi strategisnya sebagai jalur distribusi minyak global, setiap perubahan kebijakan di wilayah ini langsung berdampak pada stabilitas energi dunia.

Dengan demikian, pembukaan Selat Hormuz bukan sekadar langkah teknis menjaga arus perdagangan, tetapi juga mencerminkan strategi Iran dalam mempertahankan pengaruhnya di tengah negosiasi yang masih penuh ketidakpastian.