The Indonesia Times - Ambisi Elon Musk menghadirkan akses internet bebas sensor di Iran melalui layanan satelit Starlink dilaporkan menghadapi perlawanan serius. Ribuan terminal Starlink yang beroperasi secara ilegal di negara tersebut disebut mengalami gangguan masif, diduga akibat penggunaan sistem peperangan elektronik (electronic warfare/EW) canggih milik Rusia oleh militer Iran.
Laporan pemantau jaringan internasional menunjukkan kualitas koneksi Starlink di Iran merosot tajam dalam waktu singkat. Gangguan awal terjadi pada sekitar 30 persen lalu lintas data, sebelum melonjak hingga lebih dari 80 persen koneksi lumpuh hanya dalam hitungan jam. Saat ini, akses Starlink dilaporkan hanya tersisa secara sporadis di beberapa titik.
Analis keamanan siber dan teknologi pertahanan, Dr. Andrei Kovalenko, menilai gangguan tersebut mengindikasikan penggunaan sistem EW kelas berat.
“Pola gangguan yang terjadi tidak menyerupai pemblokiran biasa. Ini mengarah pada operasi peperangan elektronik terkoordinasi, kemungkinan besar menggunakan sistem seperti Murmansk-BN,” ujar Kovalenko, dikutip Jumat (16/1/2026).
Murmansk-BN merupakan sistem jammer jarak jauh buatan Rusia yang dirancang untuk mengganggu komunikasi strategis musuh hingga radius 5.000–8.000 kilometer. Sistem ini awalnya dikembangkan untuk menghadapi NATO dan Amerika Serikat, namun kini diduga dimanfaatkan Iran untuk membatasi arus informasi dari luar negeri.
Pakar teknologi satelit dari London-based Space Policy Institute, Laura Mitchell, menilai kejadian ini menjadi pukulan simbolik bagi anggapan bahwa konstelasi satelit komersial tak bisa dibendung negara.
“Starlink selama ini dianggap ‘kebal’ karena jumlah satelitnya yang mencapai ribuan unit.
Namun kasus Iran menunjukkan bahwa kontrol spektrum frekuensi masih bisa dimenangkan oleh negara dengan kemampuan EW yang kuat,” kata Mitchell.
Meski efektif, strategi “kill switch” elektronik ini tidak murah. Pengamat militer Timur Tengah, Hassan Al-Rashid, memperkirakan biaya operasional jammer tersebut bisa mencapai lebih dari US$1,5 juta per jam.
“Ini mahal dan tidak bisa dilakukan tanpa perhitungan.
Tapi bagi Iran, kontrol informasi adalah isu keamanan nasional, bukan sekadar soal biaya,” ujarnya.
Pemadaman internet nasional di Iran dilaporkan telah berlangsung lebih dari 132 jam. Situasi ini mempertegas bahwa internet kini telah berubah menjadi medan konflik strategis, di mana satelit orbit rendah milik perusahaan swasta berhadapan langsung dengan kekuatan militer negara.
“Ini bukan lagi soal teknologi vs teknologi, tapi soal siapa yang menguasai langit dan spektrum,” pungkas Kovalenko.