The Indonesia Times - Industri ponsel pintar global diperkirakan memasuki fase transisi besar. Ponsel lipat yang selama ini dianggap produk mahal dan niche mulai diproyeksikan menggeser dominasi ponsel konvensional.

Lembaga riset IDC memprediksi pengiriman HP lipat akan tumbuh signifikan hingga 29,7 persen pada 2026, jauh melampaui laju pertumbuhan ponsel standar yang diperkirakan stagnan di bawah 1 persen.

Lonjakan ini dipicu oleh kombinasi faktor teknologi dan strategi pasar. Salah satunya adalah kemunculan iPhone lipat pertama yang telah lama dirumorkan, serta peluncuran Samsung Galaxy Z TriFold yang memperkenalkan desain lipat tiga ke pasar global.

“Tahun 2026 akan bergairah untuk kategori HP lipat dengan pertumbuhan tahunan diproyeksikan hampir 30 persen, dibandingkan patokan 6 persen pada proyeksi sebelumnya,” ujar Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, Senin (19/1/2026).

Menurut Popal, Samsung akan membuka tahun 2026 dengan Galaxy Z TriFold dan membangun momentum dari kesuksesan Galaxy Z Fold7 pada 2025. Di saat yang sama, Huawei diprediksi mencatat pertumbuhan kuat lewat perangkat lipat berbasis HarmonyOS Next, dengan pengapalan hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, Popal menegaskan bahwa titik balik sesungguhnya justru akan datang dari Apple.
“Game-changer untuk kategori HP lipat akan muncul di akhir 2026 ketika Apple masuk ke sektor ini,” katanya.

Pandangan senada disampaikan VP Client Devices IDC, Francisco Jeronimo. Ia menilai masuknya Apple ke pasar HP lipat akan mengubah persepsi konsumen terhadap perangkat lipat yang selama ini dianggap eksperimental.

“Langkah Apple akan mendorong minat pada kategori HP lipat. Apple cenderung menjadi katalis adopsi produk baru di pasar mainstream,” ujar Jeronimo.

Meski begitu, Jeronimo mengingatkan bahwa HP lipat tetap akan menjadi segmen kecil dari sisi volume. Nilai ekonominya justru terletak pada harga jual yang jauh lebih tinggi. “HP lipat akan menjadi pendorong nilai yang relevan karena harga jual rata-ratanya sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan HP standar,” katanya.

IDC mencatat perubahan perilaku konsumen juga ikut mempercepat pergeseran ini.

Pada 2026, pengguna cenderung mempertahankan ponsel lebih lama, membuat siklus penggantian perangkat makin melambat. Dalam kondisi pasar yang jenuh, inovasi radikal seperti HP lipat menjadi satu-satunya cara bagi vendor untuk memicu pembelian ulang.

“Industri membutuhkan inovasi yang berarti untuk memotivasi peningkatan perangkat dan mendorong nilai. HP lipat kini menjadi tumpuan itu,” tulis IDC dalam laporannya.

Secara jangka menengah, kategori HP lipat diperkirakan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 17 persen hingga 2029. Sebaliknya, segmen ponsel konvensional diproyeksikan tumbuh kurang dari 1 persen, menandakan pasar yang nyaris jenuh.

Dari sisi sistem operasi, Android masih akan mendominasi pasar HP lipat pada 2026 dengan pangsa 61 persen. Apple diperkirakan langsung merebut 22 persen, sementara HarmonyOS Next milik Huawei menyusul dengan 17 persen.

Meski demikian, IDC menegaskan bahwa seluruh proyeksi ini masih bersifat dinamis dan bisa berubah mengikuti kondisi pasar, kesiapan teknologi, serta respons konsumen terhadap harga dan daya tahan perangkat lipat.

Jika prediksi ini terbukti, 2026 bukan sekadar tahun pertumbuhan HP lipat, melainkan awal dari pergeseran paradigma: dari ponsel slab konvensional menuju era perangkat fleksibel yang memaksa industri keluar dari zona nyaman inovasi incremental.