The Indonesia Times – DPC GMNI Surabaya Raya menggandeng Rumah Literasi Digital (RLD) untuk membekali kader dengan kemampuan menulis berita yang akurat dan bertanggung jawab di tengah maraknya penyebaran informasi tanpa verifikasi di ruang digital.
Pelatihan Jurnalistik Batch 2 yang digelar di Hanaka Social Space, Surabaya, Rabu (10/6/2026), diikuti kader aktif dan alumni GMNI dari sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Surabaya, Madiun, Jember, dan Blitar.
Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, Kadek Ayu Wardani, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas kader dalam menghasilkan karya tulis yang dapat dipertanggungjawabkan sekaligus memperkuat budaya literasi di lingkungan organisasi.
"Kami berharap peserta memahami teknik menulis yang benar sehingga karya yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan sesuai materi yang telah disampaikan. Kegiatan ini bukan sekadar ajang berkumpul, tetapi ruang belajar yang memberi manfaat nyata bagi kader," kata Kadek.
Menurut dia, pelatihan jurnalistik menjadi langkah awal membangun kolaborasi berkelanjutan antara GMNI Surabaya Raya dan Rumah Literasi Digital dalam pengembangan kualitas sumber daya kader.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin menjalin kerja sama yang berkelanjutan dengan Rumah Literasi Digital agar penguatan kapasitas kader terus berjalan," ujarnya.
Ketua Rukun Warta Rumah Literasi Digital, Fatchur Rohman, menyampaikan bahwa kemampuan menulis dan memahami informasi yang benar menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda di era digital.
Menurutnya, kemudahan mengakses informasi melalui internet harus dibarengi kemampuan memilah sumber informasi serta tanggung jawab saat menyampaikan pesan kepada publik.
"Di era digital, semua orang bisa belajar menulis. Namun yang lebih penting adalah memahami kaidah penulisan serta memastikan informasi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan," ujarnya.
Dalam pemaparannya, Fatchur menekankan tiga prinsip yang harus dimiliki setiap penulis. Pertama, memiliki dasar kepenulisan yang kuat agar tulisan tidak sekadar berisi opini, melainkan didukung fakta dan argumentasi yang jelas.
"Kalian harus menghindari kebiasaan menulis tanpa dasar kepenulisan. Setiap tulisan harus memiliki fondasi yang jelas," tegasnya.
Kedua, memahami perbedaan media sosial dan media pers. Menurutnya, media sosial menjadi ruang bebas bagi berbagai pendapat, sedangkan media pers terikat pada kode etik jurnalistik serta standar profesional yang ketat.
Ketiga, membiasakan verifikasi sebelum menyebarkan informasi. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah penyebaran hoaks yang masih marak di berbagai platform digital.
"Setiap informasi harus diverifikasi sebelum dipublikasikan. Lakukan pengecekan berulang agar informasi yang disampaikan benar-benar valid," katanya.
Melalui pelatihan tersebut, GMNI Surabaya Raya berharap lahir lebih banyak kader yang mampu menghadirkan tulisan berbasis fakta, kritis terhadap informasi yang beredar, serta menjunjung tinggi etika jurnalistik dalam setiap karya yang dipublikasikan.
Penulis: Bintang Putra