theindonesiatimes.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia memicu kekhawatiran setelah asap dari kebakaran gambut di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, mengganggu jarak pandang pengendara hingga kabut asap menjangkau kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Sulawesi Selatan, Rabu (14/10/2026).
Di sekitar Jalan Mahir Mahar, Lingkar Luar Palangkaraya, api kembali membesar setelah sempat dipadamkan. Angin kencang membuat kobaran api di lapisan gambut kembali menyala dan meluas.
Asap pekat berwarna kekuningan nyaris menutupi ruas jalan. Kondisi tersebut membahayakan pengguna jalan karena jarak pandang berkurang, sementara api yang tersimpan di dalam lapisan gambut berpotensi kembali muncul meski permukaan lahan terlihat telah padam.
Dampak karhutla juga terasa di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kabut asap dilaporkan menyelimuti kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, terutama di sekitar landasan pacu 21, dalam beberapa hari terakhir.
Jarak pandang di sekitar bandara dilaporkan berkurang hingga sekitar lima kilometer. Meski demikian, operasional penerbangan masih berlangsung normal.
Di tengah meluasnya dampak asap, pemerintah belum berencana menetapkan karhutla sebagai bencana nasional. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Dudung Abdurachman, menyatakan pemerintah masih mampu menangani kebakaran yang terjadi di sejumlah daerah.
Pemerintah juga menanggapi tawaran bantuan dari Malaysia dan Singapura untuk memadamkan karhutla. Namun, belum ditetapkannya status bencana nasional membuat penanganan kebakaran dan dampaknya di berbagai wilayah tetap menjadi perhatian.
Kebakaran gambut yang kembali menyala setelah pemadaman menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Penanganan tidak cukup hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga harus memastikan titik panas di dalam tanah benar-benar terkendali agar kebakaran tidak berulang dan asap tidak terus mengganggu aktivitas masyarakat.