TheIndonesiaTimes - Tragedi kebakaran yang melanda Bar Le Constellation, Swiss meninggalkan luka mendalam bagi warga setempat. Insiden yang terjadi sekitar pukul 01.30 dini hari waktu setempat itu menewaskan sekitar 40 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya, sebagian dalam kondisi kritis.
Api dengan cepat melalap bangunan yang saat itu dipenuhi pengunjung. Kepanikan tak terelakkan, sementara upaya penyelamatan berlangsung di tengah kepulan asap dan kobaran api yang menyelimuti lokasi.
Baca juga: Perayaan Tahun Baru Berubah Duka, Ledakan Guncang Bar Le Constellation di Swiss
Sehari setelah kejadian, ratusan warga mendatangi area sekitar bar untuk menggelar aksi solidaritas. Mereka berdiri dalam diam, memandang lokasi tragedi yang kini ditutup tirai putih oleh aparat kepolisian. Suasana hening terasa begitu menekan, hanya diselingi doa lirih dan tangis yang tertahan.
“Saya tidak berada di sana, tapi banyak teman dan kerabat saya yang menjadi korban. Sekitar 10 orang meninggal, dan yang lain masih dirawat di rumah sakit,” ujar Orosstevic, seorang pemuda setempat, dikutip dari AFP.
Kesaksian serupa disampaikan Mathys, warga lokal yang kerap menghabiskan akhir pekan di bar tersebut. Ia mengaku beruntung tidak berada di lokasi saat kejadian, namun trauma mendalam tetap ia rasakan ketika melihat kondisi bangunan pascakebakaran.
“Kami mengira itu hanya kebakaran kecil. Tapi ketika sampai, keadaannya seperti medan perang. Itu benar-benar apokaliptik,” tuturnya.
Baca juga: Volodymyr Zelensky Ajukan Proposal Perdamaian Kepada Rusia
Duka juga dirasakan Paulo Martins, warga Prancis yang telah lama menetap di kawasan itu. Putranya nyaris menjadi korban setelah membatalkan rencana datang ke bar di menit terakhir. Meski selamat, sang anak mengalami syok berat, terlebih salah satu temannya harus diterbangkan ke Jerman akibat luka bakar hingga 30 persen.
Di tengah gemerlap lampu Natal yang masih menghiasi kota, suasana duka terasa kontras. Sejumlah tempat hiburan memilih menutup operasional sebagai bentuk penghormatan. Misa khusus juga digelar di Gereja Montana-Station untuk mendoakan para korban. “Banyak yang datang, suasananya sangat khidmat. Ada pesan tentang harapan, dan itu penting bagi kami saat ini,” ujar Jean-Claude, salah satu jemaat, Sabtu (3/1/2025).
Kesedihan kolektif juga tercermin dari Veronica, warga lanjut usia yang telah tinggal di Crans-Montana selama empat dekade. Dengan mata berkaca-kaca, ia merangkum perasaan banyak orang. “Rasa sakit yang dialami orang lain adalah rasa sakit kita semua,” katanya lirih.
Hingga kini, aparat kepolisian masih berjaga di sekitar lokasi kejadian. Warga terus berdatangan untuk menyalakan lilin dan meletakkannya di tanah yang membeku, sebagai simbol duka dan solidaritas bagi para korban tragedi tersebut.
Editor : Rico