Akses yang Jauh, Harapan yang Tertunda: Cerita Layanan Disabilitas di Tingkat Warga

Reporter : Ronaldy Hehakaya
Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, mulai menjalankan Posyandu Disabilitas sebagai bentuk layanan yang langsung menyasar warga. Foto/RLD

The Indonesia Times - Di banyak keluarga, keputusan membawa anak ke terapi bukan lagi soal kebutuhan, melainkan soal kemampuan. Ongkos perjalanan, biaya layanan, hingga waktu yang harus dikorbankan sering kali membuat langkah itu tertunda, bahkan dibatalkan.

Kondisi tersebut masih menjadi gambaran umum layanan disabilitas di berbagai daerah. Fasilitas ada, program tersedia, anggaran pun dialokasikan. Namun, jarak antara kebijakan dan kebutuhan di lapangan belum sepenuhnya terjembatani.

Baca juga: Malang Autism Center Resmikan Klinik Patria, Upaya Tingkatkan Inklusi Layanan Disabilitas

Di Kota Malang, gambaran itu perlahan coba diubah dari level paling bawah: kelurahan.

Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, mulai menjalankan Posyandu Disabilitas sebagai bentuk layanan yang langsung menyasar warga. Pemeriksaan kesehatan, pendampingan, hingga pemetaan kebutuhan dilakukan di lingkungan yang lebih dekat dengan tempat tinggal masyarakat.

Pendekatan tersebut muncul dari evaluasi terhadap penggunaan anggaran kelompok rentan. Selama ini, banyak kegiatan berhenti pada forum sosialisasi yang tidak berlanjut.

Lurah Penanggungan, Amanullah Abror, menyebut kebutuhan warga tidak bisa dijawab dengan kegiatan sesaat.

“Yang dibutuhkan itu layanan yang berulang dan bisa diakses. Bukan hanya kegiatan yang selesai dalam satu hari,” ujarnya.

Melalui kerja sama dengan Malang Autism Center (MAC), kelurahan mulai mengumpulkan data. Tercatat puluhan penyandang disabilitas di wilayah tersebut, sebagian besar berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Di sinilah persoalan lain muncul: biaya.

Bagi banyak orang tua, terapi menjadi kebutuhan yang sulit dijangkau. Dalam satu sesi, biaya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Jika dilakukan secara rutin, jumlah tersebut tentu tidak ringan.

Founder MAC, Mohammad Cahyadi, mengatakan kondisi ini sering membuat orang tua menghentikan terapi di tengah jalan.

“Banyak yang tidak melanjutkan karena keterbatasan biaya, padahal anak membutuhkan pendampingan berkelanjutan,” katanya.

Baca juga: Hebat! Kota Malang Raih Predikat Ramah Disabilitas, Begini Program Nyatanya

Masalah tidak berhenti pada biaya. Akses juga menjadi hambatan. Tidak semua keluarga memiliki kemampuan untuk rutin datang ke pusat layanan yang lokasinya jauh dari tempat tinggal.

Situasi tersebut memperlihatkan adanya ketimpangan: layanan tersedia, tetapi tidak selalu terjangkau oleh mereka yang membutuhkan.

Posyandu Disabilitas mencoba menjawab celah itu dengan cara sederhana—mendekatkan layanan.

Di salah satu sesi kegiatan, beberapa anak terlihat menjalani latihan motorik dengan metode bermain. Pendampingan dilakukan secara bertahap, dengan pendekatan yang disesuaikan kondisi masing-masing anak.

Di sisi lain, orang tua memanfaatkan momen tersebut untuk berkonsultasi. Bagi mereka, kesempatan bertemu tenaga pendamping tanpa harus pergi jauh menjadi hal yang sangat berarti.

Jaelani, salah satu warga, merasakan langsung perubahan tersebut. Ia mengaku sebelumnya kesulitan membawa anaknya ke layanan terapi karena faktor jarak.

Baca juga: Potensi Terpendam: Seni Autisme dari Jakarta hingga Mojokerto Dipamerkan, Harga Lukisan Bikin Kagum

“Sekarang lebih dekat, jadi bisa ikut rutin,” ujarnya.

Meski langkah ini belum menjawab seluruh persoalan, pendekatan berbasis wilayah dinilai lebih realistis untuk menjangkau kelompok rentan.

Namun, tantangan ke depan tetap besar. Ketimpangan layanan tidak hanya berkaitan dengan jarak dan biaya, tetapi juga kesinambungan program. Tanpa dukungan kebijakan yang lebih luas, inisiatif seperti ini berisiko berhenti di tengah jalan.

Kelurahan Penanggungan mulai merancang langkah lanjutan, termasuk penyediaan alat terapi sederhana dan ruang layanan yang memanfaatkan fasilitas yang ada. Kolaborasi dengan pihak luar juga dibuka untuk memperkuat program.

Upaya tersebut menjadi pengingat bahwa layanan disabilitas bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian dari kebutuhan dasar yang harus dipenuhi secara merata.

Di tengah keterbatasan, perubahan kecil di tingkat lokal menunjukkan satu hal: ketika layanan dibawa lebih dekat, harapan yang sempat tertunda mulai menemukan jalannya kembali.

Editor : Doni Nugroho

Nasional
Berita Populer
Berita Terbaru