The Indonesia Times - Yayasan Anak Negeri Cinta Merah Putih mendorong transformasi ekonomi berbasis agribisnis berkelanjutan di wilayah Tapanuli Raya dan kawasan Danau Toba sebagai solusi pasca penutupan operasional PT Toba Pulp Lestari (TPL).
Dorongan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional yang digelar di Jakarta, Kamis (15/5/2026), dengan melibatkan akademisi, praktisi, serta pemangku kepentingan untuk merumuskan arah baru pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal.
Pendiri yayasan, Martin Hutabarat dan Master Parulian Tumanggor, menilai penghentian aktivitas industri kehutanan justru membuka peluang membangun model ekonomi yang lebih inklusif dan ramah lingkungan.
“Wilayah eks-konsesi memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi agribisnis berbasis masyarakat yang mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” ujar perwakilan yayasan.
Kawasan eks-konsesi seluas sekitar 160 ribu hektare disebut memiliki peluang untuk dikembangkan melalui skema agroforestry, perkebunan rakyat, hingga pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dan bioenergi.
Sejumlah pakar turut memberikan pandangan strategis dalam forum tersebut. Van Basten Panjaitan menekankan pentingnya kepastian hukum dalam tata kelola lahan, sementara Frans B.M. Dabuke menyoroti model agribisnis berbasis kawasan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi lokal.
Adapun Herbert H.O. Siagian menilai penguatan kelembagaan usaha masyarakat menjadi kunci keberhasilan, dan Frans Meroga Surung Raja Panggabean menekankan pentingnya pengelolaan korporasi profesional guna meningkatkan daya saing sektor agribisnis.
Melalui forum ini, yayasan berharap lahir rekomendasi konkret untuk mendukung kebijakan pembangunan berkelanjutan di kawasan Tapanuli dan Danau Toba, dengan menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.
Langkah ini diharapkan menjadi fondasi terciptanya ekosistem ekonomi baru yang mandiri dan berdaya saing bagi masyarakat di wilayah tersebut.