Rudal Khorramshahr-4

Iran Pamer Rudal Khorramshahr-4 Jelang Perundingan Nuklir dengan AS

Reporter : Rico
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan telah mengerahkan rudal balistik jarak jauh terbaru Khorramshahr-4. Foto dok TSM

The Indonesia Times - Iran kembali mengirim sinyal keras ke Amerika Serikat dan sekutunya. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan telah mengerahkan rudal balistik jarak jauh terbaru Khorramshahr-4 di salah satu pangkalan militernya, langkah yang dinilai mempertebal tensi jelang perundingan nuklir Iran-AS di Oman.

Media pemerintah Iran, PressTV, Kamis (5/2/2026), menyebut pengerahan ini menandai masuknya Khorramshahr-4 ke dalam doktrin pertahanan resmi Iran.

Baca juga: Trump Ultimatum Iran: Kesepakatan Dilanggar, Serangan Akan Dimulai Lagi

Rudal tersebut memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer dan mampu membawa hulu ledak seberat 1.500 kilogram—kapabilitas yang menempatkan sejumlah pangkalan militer AS dan wilayah sekutu di kawasan dalam radius ancaman.

Langkah IRGC ini dinilai bukan sekadar uji coba teknis, melainkan pesan politik yang disengaja. Pengerahan dilakukan hanya sehari sebelum Utusan Khusus Presiden AS, Steve Witkoff, dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam perundingan nuklir di Oman.

Baca juga: Selat Hormuz Kembali Dibuka, Ini Dampaknya bagi Perdagangan Minyak Dunia

Pengamat menilai Iran tengah memperkuat posisi tawarnya di meja diplomasi dengan menunjukkan kemampuan militer strategis. “Ini pesan bahwa Iran tidak datang ke perundingan dalam posisi tertekan,” lapor PressTV, mengutip sumber pertahanan Iran.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump kembali meningkatkan retorika tekanan dengan menyebut “armada besar” AS telah bergerak menuju kawasan Iran. Trump menegaskan Washington menginginkan kesepakatan baru yang “adil dan setara,” termasuk tuntutan agar Teheran sepenuhnya meninggalkan senjata nuklir.

Baca juga: Trump Umumkan Gencatan Senjata dengan Iran, Akses Selat Hormuz Jadi Taruhan

Namun, Trump juga melontarkan ancaman terbuka. Jika perundingan gagal, ia menyebut setiap serangan AS ke Iran di masa depan akan “jauh lebih buruk” dibandingkan sebelumnya—pernyataan yang mempertegas pendekatan tekanan maksimal Washington.

Pengerahan Khorramshahr-4 di tengah ancaman tersebut memperlihatkan pola konfrontasi klasik: diplomasi berjalan beriringan dengan unjuk kekuatan. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar—apakah perundingan Oman akan menjadi jalan keluar ketegangan, atau justru pembuka babak baru eskalasi militer di Timur Tengah.

Editor : Rico

Nasional
Berita Populer
Berita Terbaru