The Indonesia Times - Kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan yang memicu aliansi mahasiswa menggelar demonstrasi di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026). Dua program utama pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, menjadi target penolakan dalam aksi tersebut.
Sejak diluncurkan, MBG dan Kopdes Merah Putih disebut sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat dan ekonomi desa. Namun, mahasiswa menilai kebijakan itu justru berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah tekanan ekonomi.
Aksi bertajuk “Menuju Indonesia Bangkrut” ini diikuti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari sejumlah kampus, seperti Universitas Indonesia, IPB University, Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Pancasila, dan Universitas Gunadarma, serta organisasi mahasiswa lainnya.
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan, menyampaikan lima tuntutan utama. Selain penghentian MBG dan Kopdes, mahasiswa juga meminta pemerintah menghentikan pemborosan APBN, menurunkan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM), serta mengakhiri militerisme di ranah sipil.
“Kami melihat kondisi ekonomi tidak baik-baik saja. Harga beras naik, lapangan kerja menyempit, dan masyarakat semakin tertekan,” ujar Athof.
Ia juga mendesak Presiden untuk tidak menghindari kritik publik. Menurutnya, berbagai masukan berbasis data telah disampaikan, namun belum mendapat respons memadai dari pemerintah.
Hingga siang hari, massa aksi masih bertahan di kawasan Bundaran HI dengan pengawalan aparat. Arus lalu lintas di sekitar lokasi terpantau tersendat akibat konsentrasi massa yang terus bertambah.