The Indonesia Times - Rencana ekspansi investasi Danantara ke Amerika Serikat (AS) senilai Rp130 triliun menuai perhatian publik di tengah tuntutan agar dana negara lebih difokuskan untuk pembangunan domestik.
Menanggapi isu tersebut, Menteri Investasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa orientasi utama investasi tetap berada di dalam negeri.
Rosan menyatakan ekspansi ke luar negeri bukan langkah spekulatif, melainkan bagian dari strategi investasi terukur yang bertujuan memperkuat ekonomi nasional.
“Fokus kami tetap di Indonesia. Skema investasi Danantara adalah 80 persen di dalam negeri dan 20 persen di luar negeri,” ujar Rosan.
Ia menekankan, setiap peluang investasi global akan diseleksi ketat dan hanya dijalankan jika memberikan manfaat konkret bagi Indonesia.
“Investasi di luar negeri harus membawa transfer teknologi, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan imbal hasil di atas biaya modal. Kalau tidak memenuhi itu, tentu tidak kami jalankan,” tegasnya.
Rosan juga memastikan keputusan investasi Danantara tidak dilepaskan dari kepentingan jangka panjang pembangunan nasional dan tidak semata mengejar ekspansi finansial.
Sementara itu, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menyebut penguatan kerja sama internasional justru ditujukan untuk menarik arus investasi global masuk ke Indonesia melalui jalur diplomasi ekonomi.
“Diplomasi ekonomi harus proaktif. Danantara hadir untuk menjembatani potensi ekonomi nasional dengan investasi global yang nyata dan berdampak jangka panjang,” kata Pandu, Selasa (3/2/2026).
Ia menjelaskan Danantara difokuskan sebagai pengelola aset strategis negara yang diarahkan ke sektor-sektor berdampak luas seperti energi terbarukan, infrastruktur, pangan, kesehatan, ekonomi digital, dan jasa keuangan.
“Yang kami dorong bukan sekadar pengelolaan aset, tetapi investasi ulang yang menciptakan pertumbuhan inklusif dan memperkuat daya saing Indonesia,” pungkasnya.
Isu ekspansi investasi ini dinilai menjadi ujian awal bagi Danantara dalam menyeimbangkan ambisi global dengan tuntutan optimalisasi pembangunan ekonomi di dalam negeri.