The Indonesia Times - Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan eksternal di tengah eskalasi ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan saat bertemu para atlet Paralimpiade nasional di Teheran, Sabtu (21/2/2026), dalam pidato yang sarat pesan perlawanan politik dan konsolidasi domestik.

Dalam pidatonya, Pezeshkian menegaskan bahwa tekanan politik dan ekonomi dari kekuatan global tidak akan mengubah arah kebijakan negaranya. “Selama rakyat Iran masih hidup, mereka akan terus berjuang demi kehormatan bangsa. Kami tidak akan menyerah pada tekanan kekuatan besar dunia,” ujarnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik dan keamanan antara Iran dan Washington, yang dalam beberapa bulan terakhir ditandai oleh saling tuding terkait stabilitas kawasan, pengembangan teknologi militer, serta kebijakan sanksi ekonomi.

Konsolidasi Politik di Tengah Tekanan Eksternal

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Teheran, Reza Mahdavi, menilai pidato Pezeshkian tidak semata retorika simbolik, melainkan bagian dari strategi konsolidasi politik domestik menghadapi tekanan global.
“Pesan yang ingin ditegaskan pemerintah adalah ketahanan nasional. Namun, retorika perlawanan juga mencerminkan posisi Iran yang semakin terdesak secara ekonomi akibat sanksi berkepanjangan,” kata Mahdavi kepada media lokal.

Menurutnya, pemerintah Iran berupaya membangun narasi persatuan nasional dengan memanfaatkan momentum simbolik seperti pertemuan dengan atlet Paralimpiade. “Ini bukan forum kebijakan luar negeri, tetapi justru di situlah pesan politik disampaikan secara emosional dan efektif,” ujarnya.

Dimensi Ekonomi dan Psikologis

Analis kebijakan Timur Tengah dari lembaga riset regional, Laleh Farzan, menilai pernyataan presiden mencerminkan tekanan ganda yang dihadapi Iran: ekonomi dan psikologis publik.

“Ketika tekanan ekonomi meningkat, pemerintah cenderung menguatkan narasi kedaulatan dan resistensi. Masalahnya, retorika perlawanan tidak selalu berbanding lurus dengan kapasitas ekonomi riil negara,” katanya.

Ia menambahkan bahwa masyarakat Iran saat ini menghadapi inflasi tinggi dan ketidakpastian ekonomi, sehingga pesan ketahanan nasional berfungsi menjaga stabilitas sosial. “Pernyataan seperti ini adalah alat politik untuk mempertahankan legitimasi di tengah tekanan internal,” tegas Farzan.

Ketegangan Regional yang Membara

Pernyataan Pezeshkian juga dipandang sebagai sinyal politik kepada komunitas internasional bahwa Iran tidak akan mengubah posisi strategisnya meskipun menghadapi tekanan diplomatik.

Analis keamanan regional, Hossein Darvishi, menilai sikap keras Teheran berpotensi memperpanjang kebuntuan diplomatik. “Ketika kedua pihak sama-sama mempertahankan posisi maksimal, ruang kompromi semakin sempit. Retorika perlawanan bisa memperkuat dukungan domestik, tetapi juga meningkatkan risiko eskalasi,” ujarnya.

Pesan Simbolik kepada Dunia
Pidato di hadapan atlet

Paralimpiade dinilai memiliki makna simbolik: ketahanan, perjuangan, dan martabat nasional. Namun sejumlah pengamat menilai pesan tersebut juga mencerminkan strategi komunikasi politik yang bertujuan memperkuat posisi tawar Iran di tengah tekanan global.

“Pemerintah ingin menunjukkan bahwa tekanan eksternal tidak akan memecah persatuan nasional. Tetapi di sisi lain, dunia internasional membaca pernyataan ini sebagai sinyal bahwa negosiasi akan semakin sulit,” kata Mahdavi.

Dengan ketegangan geopolitik yang belum mereda, pernyataan Pezeshkian menegaskan bahwa konfrontasi politik antara Teheran dan Washington masih jauh dari penyelesaian.