The Indonesia Times -Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer besar-besaran terhadap Teheran.

Langkah agresif ini mencuat menyusul kegagalan pembicaraan diplomatik terkait program nuklir Iran yang dinilai tidak menghasilkan titik temu.

Sejumlah sumber internal pemerintahan AS, melaporkan bahwa Trump sedang menimbang berbagai skenario serangan, mulai dari operasi udara yang menyasar pejabat tinggi dan elite keamanan Iran hingga penghancuran fasilitas nuklir serta lembaga-lembaga strategis negara tersebut.

Sebelumnya, The New York Times juga mengungkapkan bahwa upaya perundingan untuk meredakan eskalasi yang berlangsung pekan lalu kandas. Iran disebut tetap menolak tuntutan Trump yang meminta Teheran menghentikan dan membatasi program nuklirnya secara signifikan.

Meski opsi militer semakin terbuka, laporan tersebut menyebutkan bahwa Trump belum mengambil keputusan final. Ia disebut meyakini bahwa kehadiran kelompok penyerang militer AS yang telah lebih dulu digeser ke kawasan Timur Tengah akan memperluas pilihan taktis Washington, sekaligus meningkatkan tekanan psikologis terhadap Iran.

Namun, ancaman terbuka dari Trump justru berdampak pada mandeknya komunikasi. Dalam beberapa hari terakhir, tidak tercatat adanya kontak langsung yang berarti antara Washington dan Teheran, menandakan saluran diplomasi kian tertutup.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran internasional akan potensi konflik terbuka berskala besar di Timur Tengah. Ketika jalur diplomasi buntu dan opsi militer semakin dominan, risiko salah perhitungan strategis dinilai kian tinggi—dengan dampak yang tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga keamanan global.