The Indonesia Times - Operasi militer Meksiko yang menewaskan gembong narkoba Nemesio Oseguera alias “El Mencho” berujung pada 62 korban jiwa dan gelombang kekerasan di berbagai wilayah. Korban mencakup 25 anggota Garda Nasional, puluhan anggota kelompok bersenjata, serta korban bentrokan susulan.
Otoritas menyebut lokasi pemimpin Jalisco New Generation Cartel (CJNG) di Jalisco terungkap dari informasi lingkar dekat. Dalam penggerebekan, aparat menyita persenjataan berat, termasuk pelontar granat, roket, dan mortir.
Menteri Pertahanan Ricardo Trevilla menegaskan operasi dilakukan untuk melumpuhkan struktur komando kartel.
“Target utama berhasil dilumpuhkan. Namun respons kekerasan dari jaringan kartel terjadi segera setelah operasi,” ujarnya.
Balasan cepat muncul dalam bentuk pembakaran kendaraan dan 85 blokade jalan di lebih dari selusin negara bagian. Pemerintah mengerahkan sekitar 2.000 personel tambahan untuk mengamankan wilayah rawan.
Presiden Claudia Sheinbaum menyatakan situasi mulai terkendali, tetapi mengakui ancaman belum sepenuhnya reda. “Negara bertindak tegas terhadap kejahatan terorganisasi. Prioritas kami adalah memulihkan keamanan publik secepat mungkin,” katanya.
Pemerintah Meksiko juga mengakui adanya pertukaran intelijen dengan Amerika Serikat. Di Washington, Donald Trump kembali menekan agar penindakan terhadap kartel diperketat. Otoritas Meksiko menegaskan tidak ada keterlibatan pasukan asing di lapangan.
Kematian El Mencho disebut pukulan besar bagi CJNG—rival Sinaloa Cartel—namun aparat memperingatkan potensi konflik internal yang dapat memicu kekerasan lanjutan.
“Kekosongan kepemimpinan sering memicu perebutan kendali di tingkat lapangan,” kata seorang pejabat keamanan federal Meksiko.
Serangkaian penangkapan dilakukan di sejumlah negara bagian, sementara gangguan transportasi dan aktivitas ekonomi lokal mulai terasa. Pemerintah menilai operasi berhasil secara taktis, tetapi dampak kemanusiaan dan risiko eskalasi menjadi ujian berikutnya bagi stabilitas keamanan nasional.